Sabtu, 05 November 2016

Tugas Sistem Informasi Psikologi (Tugas 2)

      A.  Pengertian Arsitektur Komputer





Arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer. Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem koneksinya). Dalam hal ini, implementasi perencanaan masing-masing bagian akan lebih difokuskan terutama, mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data dan alamat dari dan ke memory cache, RAM, ROM, cakram keras, dll. Beberapa contoh dari arsitektur komputer ini adalah arsitektur von Neumann, CISC, RISC, blue Gene.
Komponen yang terdapat komputer menurut Fahreza (2008) antara lain:





1.      Komponen bagian dalam
a)      Mother Board / Main Board
Mother board adalah tempat semua komponen atau device dipasang.
b)      CPU
Bagian terpenting dari sebuah komputer yang berfungsi sebagai pengontrolan segala aktivitas yang ada pada komputer.
c)      Memory
Memori adalah suatu perangkat keras yang berfungsi sebagai penyimpanan data dan program.
d)     Input / Output
e)      Disk Drive / Flopy Disk
Disck Drive adalah suatu media yang berfungsi sebagai penyimpanan data eksternal.
f)       CD Room/ DVD Room Read/Write
Menurut fungsinya CD Room / DVD Room dikelompokan menjadi dua macam yaitu, CD / DVD-Read, CD / DVD jenis ini hanya bisa digunakan untuk membaca data saja dan CD / DVD- Read / Write, jenis yang mampu membaca data juga bisa menulis atau menghapus data dalam bentuk CD atau DVD.
g)      VGA (Virtual Grapihc Adapter)
Divice yang berfungsi mengolah data visual yang menjadi resolusi tinggi yang ditampilkan oleh monitor.
h)      Soundcard
Perangkat keras yang berfungsi sebagai media output audio,  baik buruknya output suara tergantung dari jenis soundcard-nya.
i)        Monitor
Bagian unit komputer yang berfungsi menampilkan visualisasi ataau gambaar pada komputer.
2.      Komponen pelengkap
a)      Heatsink
Berfungsi untuk membuang panas yang dihasilkan oleh  processor lewat kondusi panas dari processor ke heatsink
b)      Fan
Semacam kipas kecil yang berfungsi untuk mendinginkan ruang dalam unit komputer.
3.      Komponen bagian luar
a)      Unit Catu Daya
Bagian komputer yang berfungsi  menyuplai power dari listrik PLN, sehingga input listriknya sesuai dengan masukan yang dibutuhkan komputer.
b)      Casing
Bagian komputer yang berfungsi sebagai penutup atau pelindung komponen-komponen komputer dari debu dan kotoran lainnya.
c)      Mouse
Pointer tanda panah yang mengarah ke kiri. Fungsi mouse adalah mengeksekusi perintah atau program dengan cara  meng-klik.
d)     Keyboard
Sebuh papan yang berisi tombol huruf dan angka. Selain untuk mengeksekusi program fungsi keyboard adalah  untuk mengetik.
e)      Speaker
Sebuah media audio yang berfungsi sebagai output suara yang dihasilkan oleh sebuah unit komputer.
      B.     Struktur Kognisi Manusia






Definisi kognisi adalah kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan termasuk kesadaran, perasaan, dsb atau usaha menggali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Proses pengenalan, dan penafsiran lingkungan oleh seseorang, hasil pemerolehan pengetahuan.
Solso (2001) studi tentang ilmiah tentang jiwa yang berpikir dan berkaitan dengan:
-          Bagaimana kita memperhatikan dan memperoleh informasi
-          Bagaimana informasi disimpan dan diproses dalam otak
-          Bagaimana memecahkan masalah, berfikir dan merumuskan bahasa
     C.     Kaitan antara Struktur Kognisi Manusia dan Arsitektur Komputer
Arsitektur Komputer dengan Struktur Kognisi Manusia memiliki kesamaan, yaitu sama sama memiliki bagian-bagian pendukungnya. Dimana arsitektur komputer memiliki beberapa komponen komputer untuk mendukung proses berjalannya mesin, dimana komputer juga memiliki input dan outputnya sendiri. Sama hal-nya dengan struktur kognisi manusia, di dalam otak kita juga mempunyai bagian-bagian yang mendukung stimulus masuk dan menghasilkan perilaku yang tampak.
     D.    Kelebihan dan Kelemahan Arsitektur Komputer dibandingkan Struktur Kognisi Manusia
Kelebihan:
-          Memiliki prosesor yang lebih banyak
-          Dapat digunakan oleh semua orang (multi user)
-          Dapat mengakses beberapa situs secara bersamaan
Kekurangan
-          Dapat terserang virus yang dapat mengganggu kinerja komputer
-          Membutuhkan listrik yang besar
-          Tidak flexibel
     E.     Contoh Kasus dan Solusinya
Didi bekerja freelance sebagai programmer, klien Didi meminta untuk membuatkan program untuk kemajuan perusahaan klien nya tersebut agar memudahkan pekerjaannya. Disini Didi dituntut keahlian dan idenya untuk bisa mengerjakan program-program yang baik dan bisa digunakan untuk memajukan perusahaan klien nya tersebut.
      F.      Sumber
Fahreza, R. (2008). Belajar mudah merakit komputer untuk pemula. Yogyakarta: MediaKom



Rabu, 02 November 2016

Tugas Sistem Informasi Psikologi (tugas 1)

   Pengantar Sistem Informasi Psikologi

a.       Pengertian Informasi



Laudon (2004) mengemukakan informasi adalah adalah data yang sudah dibentuk ke dalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk manusia.
Davis (1985) juga menjelaskan mengenai informasi adalah data yang telah diproses atau diolah ke dalam bentuk yang sangat berarti untuk penerimanya dan merupakan nilai yang sesunngguhnya atau dipahami dalam tindakan atau keputusan yang sekarang atau nantinya.
Menurut Leod (dalam Fatta, 2007) mengatakan informasi adalah data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti.
            Keterkaitan antara sistem dengan informasi yaitu dimana informasi adalah merupakan data yang telah diolah dan menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya. Sedangkan sistem suatu totalitas himpunan bagian-bagian satu sama lain berinteraksi dan bersama-sama beroperasi mencapai suatu tujuan tertentu didalam suatu lingkungan sehingga bila tidak ada suatu sistem maka tidak terjadinya suatu informasi.

b.      Pengertian Sistem Informasi Psikologi


Sistem informasi adalah suatu kumpulan dari komponen-komponen dalam perusahaan atau organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem informasi juga bisa didefinisikan sebagai suatu sistem yang menerima sumber data sebagai input dan mengolah menjadi produk  informasi sebagai output. Sistem informasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem atau komponen hardware, software, dan brainware,  data dan prosedur untuk menjalankan input, proses, output, penyimpanan dan pengontrolan yang mengubah sumber data menjadi informasi (Marimin, Tanjung, Prabowo, 2010).
Menurut (Hutahaean, 2014) sistem informasi adalah sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang dibutuhkan.
Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah suatu sistem yang menerima sumber daata sebagai input dan output. Sistem informasi itu sendiri merupakan suatu sistem yang terdiri dari hardware, software, brainware. Digunakan untuk kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategi dari suatu organisasi.
Sistem informasi psikologi adalah suatu pemanfaatan media teknologi untuk membantu mempermudah mengolah data yang berkaitan dengan ilmu psikologi, dengan bantuan media teknologi komputer yang berkontribusi dengan sistem informasi, dimana hal ini akan sangat membantu dan mempermudah mulai dari penginputan data, pemrosesan data hingga mendapatkan hasil (output) dalam pengolahan data.

c.       Contoh Kasus
Rasa pengetahuan yang kuat terhadap gejala-gejala yang sering dialami, sering mengalami perubahan mood yang ekstrim, merasa sedih berkepanjangan, dan merasa senang bagaikan waktu 24 jam pun tidak dirasa cukup untuk mengeksplor rasa senangnya itu. Seseorang berusaha mencari salah satu nama penyakit yang mewakili gejala-gejala yang ia alami, ia menemukan serangkaian test psikologi di internet yang ia akses melalui komputer, yang membuat ia tidak perlu menemui psikolog untuk mentest nya secara langsung.



d.      Sumber
Davis, G., Olson, M. H. (1985). Management information system, conceptual foundantions, structure and development, second edition. New York: Mc Graw – Hill
Fatta, H. A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: CV Andi Offset
Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish
Marimin., Tanjung, H., Prabowo. H. (2010). Sistem informasi manajemen sumber daya manusia. Jakarta: Grasindo
Laudon, K. C., Laudon, J. P. (2004). Management information system, managing the digital firm, eight edition. New Jersey: Pearson Education, Inc


Minggu, 19 Juni 2016

Contoh Kasus Terapi Bermain

Ani seorang anak yang berumur 6 tahun, mengalami gangguan keterlambatan dalam motorik nya, dan interaksi sosialnya. Lalu orang tua Ani, berkonsultasi dengan Psikolog untuk membantu permasalahan yang dialami oleh anaknya tersebut. Akhirnya Psikolog-pun menyarankan untuk Ani mengikuti Terapi Bermain guna membantu Ani memulihkan motorik dan interaksi sosialnya.

Psikolog menggunakan Jenis Permainan Skill Play untuk Ani, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan anak khususnya motoriknya

Kamis, 16 Juni 2016

Terapi Bermain

1. Definisi Terapi Bermain Menurut Maulany (1990) suatu cara yang penting dari ekspresi dan penangan konflik internal dan pengalaman traumatik masa lalu.
Menurut Razhiyah (2008) terapi bermain adalah suatu cara untuk membantu mereka yang mengalami masalah trauma, keresahan dan masalah mental. menurut terapi bermain ini suatu cara anak-anak mengeluarkan perasaan mereka dan mencari mekanisme yang dapat membantunya.
Menurut Zellawati (2011) terapi bermain adalah terapi yang menggunakan alat-alat permainan dalam situasi yang sudah dipersiapkan untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya, baik senang, sedih marah, dendam, tertekan,  atau emosi yang lain.
2. Macam-macam pendekatan Terapi BermainMenurut LaBauve dalam (Zellawati, 2011) menjelaskan 8 bentuk pendekatan dalam terapi bermain, yaitu:
  • model adlerian, model ini menggunakan dasar teori Psikologi Individual Adler, dengan dasar filosofi yaitu kehidupan sosial perlu untuk dimiliki, perilaku adalah tujuannya meilaht hidup secara subyektif dan hidup adalah sesuatu yang khusus dan kreatif. model ini digunakan untuk anak dengan kegagalan dalam berinteraksi sosial dan salah dalam mempercayai gaya hidupnya.
  • model terapi client centered, teori yang mendasari adalah teori Rogers, yang berpandangan bahwa motivasi internal yang dimiliki anak-anak mendorong pertumbuhan dan aktualisasi diri. terapi bermain dengan pendekatan client centered non directive (terapi yang berpusat pada anak secara tidak langsung), ini sesuai untuk anak-anak yang mengalami ketidaksesuaian antara kejadian hidup dengan dirinya.
  • model kognitif behavioral, model ini berpandangan bahwa anak memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti orang dewasa, yaitu ditentukan melalu bagaimana anak berfikir tentang diri dan dunianya. model ini digunakan untuk menangani anak dengan kepercayaan irrasional yang membawanya keluar dari perilaku maladaptif.
  • model ekosistemik, dasar yang digunakan adalah teori dari terapi realitas yang mempunyai pandangan bahwa berada dalam interaksi terhadap lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan.
  • model eksistensialisme, memiliki pandangan bahwa anak-anak adalah manusia berguna, unik, ekspresi diri dan pertolongan terhadap diri sendiri mendorong aktualisasi diri. pendekatan ini menangani anak-anak yang mengalami kesulitan untuk berkembang sesuai dengan keunikannya yang melemahkan pertumbuhan dirinya sehingga mengalami penolakan dalam menjalin hubungan dengan teman-temannya.
  • model gestalt, model ini melihat manusia secara total dilahrikan dengan fungsi utuh. pendekatan ini untuk terapi anak yang mengalami kesulitas bertumbuh secara alami, anak yang mencoba untuk memenuhi kebutuhan dengan cara yang tidak biasa, dan memiliki pengalaman luka baik secara fisik maupun psikologis.
  • model jungian, didasarkan pada teori analitik Jung yang melihat bahwa psikis terdiri dari ego, ketidaksadaran diri, dan ketidaksadaran kolektif, kekuatan menyembuhkan adalah bawaan. pendekatan ini biasanya digunakan untuk membantu anak yang mengalami ketidakseimbangan psikis, ego tidak dapat menjembatani antara dunia luar dan dalam dirinya.
  • model psikoanalitik, pendekatan ini menggunakan teori psikoanalisa tradisional yang memiliki dasar filosofi tentang anak yaitu anak memiliki rasa takut, memerlukan rasa aman, berusaha berhubungan dengan tuntutan lingkungan. pendekatan ini sesuai untuk anak yang mengalami konflik internal, kekhawatiran, represi, hambatan perkembangan dan agresivitas. terapi bermain mempunya akar dalam model psikoanalisis tradisional. pioner-pioner awal seperti Melanie Klein dan Anna Freud menginterpretasikan bermain sebagai simbol dari konflik anak.
3. Teknik Terapi Bermaina. Permainan Bonekaboneka memberikan suatu cara yang tidak mengancam untuk anak-anak bermain di luar pikiran dan perasaan mereka. selama bermain dengan boneka anak-anak melakukan beberapa hal seperti berikut ini:
  • mengidentifikasi diri dengan boneka
  • memproyeksikan perasaan dalam figur permainan
  • memindahkan konfliknya dalam figur permainan
dalam permainan boneka, terpais mendapat informasi tentang:
  • pandangan pikiran anak
  • perasaan anak
  • tingkah laku anak
boneka dalam terapi bermain meliputi:
  • boneka bayi yang berukuran seperti bayi
  • boneka yang secara anatomi benar, baik laki-laki maupun perempuan
  • keluarga boneka
  • binatang dari kain
  • boneka manusia dari berbagai ras dan suku bangsa
  • perlengkapan boneka seperti rumah, baju, tempat tidur dll
b. Permainan Boneka Wayanggerakan wayang atau boneka memungkinkan anak menceritakan cerita-cerita yang kaya dalam bentuk simbol dan untuk menciptakan fantasi-fantasi mereka. manfaat permainan boneka wayang antara lain:
  • melalui gerakan boneka anak dapat menghadapi pikiran dan perasaan yang sulit untuk mereka akui sebagai diri sendiri.
  • dengan menggunakan boneka anak dapat menciptakan orang lain dan berinteraksi serta mengungkapkan pikiran dan perasaannya sekaligus kemarahannya yang dalam kehidupan nyata tidak bisa dilakukannya.
  • anak-anak juga dapay menciptakan tokoh yang tidak bisa diungkapkannya sendiri, permainan dengan boneka dapat merupakan kegiatan kelompok yang menarik dan dapat digunakan dengan kelompok anak-anak yang lebih besar atau lebih kecil, terutama dalam lingkungan sekolah. dengan bermain boneka dalam kelompok, membuat anak saling menghargai sudut pandangan orang lain, dapat memecahkan masalah dan keterampilan sosial.
c. Berceritasecara psikologis membaca atau bercerita merupakan salah satu bentuk bermain yang paling sehat. kebanyakan anak kecil lebih menyukai cerita tentang orang dan hewan yang dikenalnya. selain itu karena anak kecil cenderung egosentrik mereka menyukai cerita yang berpusat pada dirinya.mula-mula anak-anak suka cerita imajinatif yang khayal kemudian seiring dengan berkembangnya kecerdasan dan pengalaman sekolah anak yang lebih besar menjadi realistik dan minatnya pun beralih ke cerita petualangan, kekerasan, kemewahan dan cinta serta pendidikan.menceritakan cerita memberikan cara yang menyenangkan untuk mengembangkan rapport dan belajar tentang anak. ketika anak menceritakan cerita mereka, mereka mengkomunikasikan informasi penting tentang diri mereka sendiri dan keluarga mereka sambil belajar mengekspresikan dan menguasai perasaan mereka. dengan mendengarkan cerita anak, terapis dapat memahami lebih baik pertahanan diri anak, konflik anak, dan dinamika keluarga anak. dalam menganalisis cerita anak, terapis harus mencari tema yang diulang yang dapat memberikan kunci penting tentang perasaan-perasaan dan perjuangan anak. terapis harus sangat akrab dan terampil dalam menginterpretasikan komunikasi simbolik secara wajar. semua ini tergantung pada keterampilan dan pertimbangan terapis.d. Bermain bermain selama masa kanak-kanak mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan permainan remaja dan orang dewasa. permainan anak kecil bersifat spontan dan informal. secara bertahap bermain menjadi semakin formal. dengan berkembangnya kemampuan berpikir anak, anak mulai mengembangkan permainan dengan aturan. permainan individu dan kelompok membantu anak belajar bagaimana membagi kelompok dan bermain dengan aturan. permainan mengajar anak tentang mendisplinkan diri, serta belajar untuk menang dan kalah. permainan yang diterapkan untuk terapi bermain dapat dimainkan sendiri maupun berkelompok.e. Bermain Pasiranak-anak suka bermain pasir. dengan adanya terapi bermain menggunakan pasir anak-anak diberikan kegembiraan, rileks dan merupakan medium terapeutik. selama di dalam kamar bermain anak bebas bermain dalam pasir dan banyak menggunakan miniatur yang tersedia seperti yang diinginkan. selama proses bermain pasir, anak memutuskan apa yang akan dibuat, figur apa yang akan digunakan, dan bagaimana menggunakannya. anak bebas membuat adegan, membuat pemandangan atau apa saja sebagai cara melukiskan pengalaman dimana mereka tidak dapat menceritakan dengan kata-kata.dengan mengobservasi anak saat bermain pasir, terapis mendapat informasi tentang pikiran, perasaan dan tingkah laku anak. permainan pasir juga sering menyangkut simbol-simbol yang mempunyai arti khusus.
Sumber:Maulany, R. F. (1990). the handbook of psychiatry. Jakarta: Buku Kedokteran EGCRazhiyah, K. A. (2008). apa itu autisme?. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing Sdn Bhd

Zellawati. A. (2011). terapi bermain untuk mengatasi masalah pada anak. Jurnal Ilmiah Informatika. Vol. 2 No. 3

Senin, 18 April 2016

Tugas Softskill 2

A. Terapi Humanistik Eksistensialis
1.    Konsep dasar pandangan Humanistik Eksistensi tentang perilaku / kepribadian
Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksisteneial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. Konsep-konsep utama pendekatan eksistensial yang membentuk landasan bagi praktek konseling, yaitu:
a) Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
   
b) Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan.
    Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

c) Penciptaan Makna.
    Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, kerasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.


2.    Unsur-unsur Terapi
a. Tujuan-tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.

Tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.

Terapi eksistensial juga bertujuan membantuklien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.

b. Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia. Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orintasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
Berorientasi pada pertumbuhan.
Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang   menyeluruh.
Mengakui bahwa putusan-ptusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tengan klien.
Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

3.    Teknik-teknik Terapi
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer & Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi.
Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien.

Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
-         Penerimaan
-         Rasa hormat
-         Memahami
-         Menentramkan
-         Memberi dorongan
-         Pertanyaan terbatas
-         Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
-         Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
-         Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna
-         
Sumber :

-          http://muhammaddany.blogspot.com/2014/04/tugas-psikoterapi-2.html
Gerald, Corey,. Teoridan. Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung : Revika Aditama
Syamsu, Yusuf,. Juntika, Nurihsan. Teori Kepribadian, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
E, Koswara. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama



B. Person Centered Therapy (Rogers)
1.      Konsep Dasar pandangan Carl Rogers tentang perilaku / kepribadian.
Carl Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus pada hubungan tarapeutik dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien. Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya. Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri tersebut.
Konsep Carl Rogers tentang kepribadian :
Berbagai istilah dan konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :

1. Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.

2. Realitas
Untuk tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.

3. Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.

4. Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.

5. Frame Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.

6. Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.

7. Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.

8. Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.

9. Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis.

10.The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.

2.      Unsur-unsur Terapi
1. Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.

2. Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.

3.      Teknik-teknik Terapi
Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.

2. Positive Regard (acceptance)
Positive Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.

3. Congruence
Congruence / Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan.

Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.

Sumber:
Corsini, R. (2000). Current psychotherapies. Itasca, Illinois: F.E Peacock Pulishers
Murad, J. (2006). Dasar-dasar konseling. Jakarta: Universitas Indonesia
Semiun, Y. (2010). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius


C. Logoterapi ( Frankl)
1.      Konsep dasar pandangan Frankl tentang perilaku / kepribadian
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl berpendapat  manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni :
a.       Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan yang dimaksud dalam freedom of will seperti:
-       Kebebasan yang bertanggungjawab.
-       Kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut.
-       Kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam  hidupnya.
b.      Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977). Dalam psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan. Pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenangan merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu menjadi individu yang bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat dengan makna.
c.       Makna Hidup (The Meaning Of Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting secara umum bukan makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup pada suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).

2.      Unsur-unsur Terapi
a.       Munculnya gangguan / kecemasan
Saat individu tidak memiliki keinginan terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan berharga. Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan, yaitu:
-       Frustasi eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga kehampaan
      eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut Koesworo,1992, exsistential frustration adalah fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
-       Neurosis noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi khusus dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik klinis tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini untuk membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang berakar pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis yang bersumber pada konflik-konflik psikologis.

b.      Tujuan terapi
-       Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal
      ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan, dan agama yang dianutnya.
-       Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat,
      dan diabaikan, bahkan terlupakan.              
-       Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untyk meraih kualitas yang lebih bermakna.

c.       Peran terapis
        Terapis memberikan sugesti-sugesti terhadap klien, bahwa setiap manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

3.      Teknik-tenik Terapi
Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
-       Intensi paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
Contohnya:
A.  Seorang pemuda yang selalu gugup ketika bergaul.
B.  Masalah tidur.
        Menurut Frankl, kalau menderita insomnia, seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan sebagainya.  Seharusnya berusaha menjaganya selama mungkin. Setelah itu baru merasakan adanya kekuatan yang mendorong untuk melangkah ke kasur.
      
-       De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terfokus pada individu. Dengan mengalihkan perhatian dari individu dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan tanpa memperdulikan kepuasan individu atau cobalah tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan.
Daftar Pustaka
·           Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
·           Frankl. Emil. (2004). On the theory and therapy of mental disorders: an introduction to logotherapy and existential analysis. Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New York. 
·           Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta : Kanisius.
·           Videbeck, L.S. (2008). Keperawatan Jiwa. Jakarta : Anggota IKAPI.


Contoh kasus:
Aan adalah seorang pemuda yang sudah mapan, saat ini ia sedang merasakan kekawatiran karena ia sudah diminta untuk secepatnya menikah dengan kedua orang tuanya. Orang tuanya pun berniat untuk menjodohkan Aan dengan seorang anak teman lamanya. Pada saat acara pertemuan, orang tua Aan pun mempertemukan Aan dengan wanita yang tak lain adalah anak dari teman lamanya itu. Menurut Aan, wanita itu mempunyai akhlak yang baik, lemah lembut, dan sopan. Tapi, Aan menjadi ragu akan perjodohan itu, karena teman wanita Aan semasa kuliahnya dulu meninggal akibat sakit. Sejak Aan menerima informasi bahwa dia akan dijodohkan dengan wanita itu, perasaan menjadi asing, dia juga sulit memberikan kepercayaan pada wanita tersebut. Aan selalu terbayang akan teman wanitanya semasa kuliah dulu, bahwa bisa saja dia kehilangan orang yang dia kasihi. Namun disisi lain Aan merasa kesepian dan membutuhkan teman hidup. Sehingga membuat Aan bingung atas perasaannya, dan memutuskan untuk mendatangi seorang konselor.
Proses konseling:
Konselor memahami masalah yang dialami oleh kliennya, dan konselor membiarkan klien untuk menceritakan semua masalah-masalahnya secara bebas. Setelah itu konselor memberikan tanggapan akan masalah klien tersebut. Konselor terlibat pertanyaan yang relavan dan pantas tentang masalah yang dialami oleh klien. Dimana pengalaman klien merasakan perasaan kesepian dan khawatiran kehilangan kembali orang yang disayanginya. Konselor meminta kepada klien untuk mengungkapkan ketakutannya dalam memilih dunia yang pasti. Klien diminta untuk menghadapi realitas tentang perjodohan nya dan menghubungkan dengan kekhawitran nya akan takut kehilangan wanita yang disayanginya untuk kedua kali. Konselor menantang klien untuk melawan rasa takut dan khawatirnya itu dan mencoba membuka hati untuk wanita yang baru tersebut.

Dalam contoh kasus diatas, konselor mendorong klien untuk memeriksa jalan hidupnya pada periode sejak mulai proses konseling. Selanjutnya konselor memberitahukan bahwa ia sedang mempelajari bahwa apa yang dialaminya adalah suatu khas sifat manusia. Yang mengalami ketidakpastiaan dan kekhawatiran yang membuat hidupnya menjadi tak bermakna.