A. Terapi Humanistik Eksistensialis
1.
Konsep
dasar pandangan Humanistik Eksistensi tentang perilaku / kepribadian
Pendekatan
Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan
suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan
Eksisteneial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang
bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik
bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi
yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi
tentang manusia. Konsep-konsep utama pendekatan eksistensial yang membentuk
landasan bagi praktek konseling, yaitu:
a)
Kesadaran Diri
Manusia memiliki
kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan
nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat
kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada
orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan
secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada
manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para
ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
b) Kebebasan, tanggung jawab, dan
kecemasan.
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab
bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan
ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak
terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti
penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan
individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk
mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian
kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar benar
menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
c) Penciptaan Makna.
Manusia itu unik dalam arti bahwa ia
berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan
memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi
kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada
hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan
sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional.
Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan
kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, kerasingan, dan kesepian.
Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan
potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu
mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.
2.
Unsur-unsur
Terapi
a.
Tujuan-tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial
bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar
atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan
bertindak berdasarkan kemampuannya.
Tujuan terapi
eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan
kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah
hidupnya.
Terapi eksistensial
juga bertujuan membantuklien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan
tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar
korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.
b.
Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama terapis
adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia. Menurut Buhler dan
Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orintasi bersama yang mencakup
hal-hal berikut:
Mengakui pentingnya
pendekatan dari pribadi ke pribadi.
Menyadari peran dari
tanggung jawab terapis.
Mengakui sifat timbal
balik dari hubungan terapeutik.
Berorientasi pada
pertumbuhan.
Menekankan keharusan
terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
Mengakui bahwa
putusan-ptusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tengan klien.
Memandang terapis
sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan
humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien
potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
Mengakui kebebasan
klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan
nilainya sendiri.
Bekerja ke arah
mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
3.
Teknik-teknik
Terapi
Yang paling dipedulikan
oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa
menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya
adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien
agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis
eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi
bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap
yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik
seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien
sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka
mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada
perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer &
Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan
teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan
manipulasi.
Sepanjang proses
terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan
yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami
klien.
Teknik-teknik yang
digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
-
Penerimaan
-
Rasa hormat
-
Memahami
-
Menentramkan
-
Memberi dorongan
-
Pertanyaan terbatas
-
Memantulkan pernyataan dan perasaan
klien
-
Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut
mersakan apa yang dirasakan klien
-
Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang
bermakna
-
Sumber :
-
http://muhammaddany.blogspot.com/2014/04/tugas-psikoterapi-2.html
Gerald, Corey,. Teoridan. Praktek
Konseling & Psikoterapi. Bandung : Revika Aditama
Syamsu, Yusuf,. Juntika, Nurihsan. Teori
Kepribadian, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
E, Koswara. Teori dan Praktek Konseling
dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama
B. Person Centered Therapy (Rogers)
1.
Konsep
Dasar pandangan Carl Rogers tentang perilaku / kepribadian.
Carl Rogers adalah
psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus pada hubungan tarapeutik
dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien. Rogers adalah salah
satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan pasien. Terapi
berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai
proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang menjalani hidup di
dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya. Menurut Rogers,
klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan ahli terapi –
klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya
sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui pengalamannya sendiri
dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh harga dirinya dan
mencapai aktualisasi diri tersebut.
Konsep Carl Rogers
tentang kepribadian :
Berbagai istilah dan
konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan
perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai
berikut :
1. Pengalaman
Pengalaman mengacu pada
dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan
kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita
seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam
kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran
masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin
terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2. Realitas
Untuk tujuan
psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu,
meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki
persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan
setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat
dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan
kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa
politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi
hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita).
Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3. Organisme Bereaksi
sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin
lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan
melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas
tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di
arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan
untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan
bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai
pejabat.
4. Organisme
mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip
utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack
Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa.
Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini
adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang
lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih
memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada
bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme
total.
5. Frame Internal
Referensi
Ini adalah bidang
persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat
pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat
pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang
mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan
dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6. Konsep Diri
Istilah – istilah
mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi
karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku”
kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai
yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan
proses perubahan.
7. Symbolization
Ini adalah proses di
mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk
pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap
dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman
ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri.
Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai
terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh
perhatian dan tertarik.
8. Penyesuaian
Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada
konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik
dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan
ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan.
Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena
itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9. Organismic Valuing
Process
Ini adalah proses yang
berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri
untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai
intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa
yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan
hipotesis.
10.The Fully
Functioning Person
Rogers mendefinisikan
mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully
functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan,
memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui
pengalaman mereka.
2.
Unsur-unsur
Terapi
1. Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis
bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka,
tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu.
Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi
perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang
mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument
perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk
tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal
dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu
kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya
bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis
hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
2. Tujuan Terapis
Rogers berpendapat
bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di
milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah
nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya
terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien
untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan
bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh
masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa
yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.
3.
Teknik-teknik
Terapi
Untuk
terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting
daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah
cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
Empati
adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan
pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama
dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang
ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor
yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang
membawa perubahan dan pembelajaran.
2.
Positive Regard (acceptance)
Positive
Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang
mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena
keberadaannya.
3. Congruence
Congruence
/ Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak
memakai topeng atau pulasan – pulasan.
Menurut
Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di
dalam suatu hubungan.
Sumber:
Corsini,
R. (2000). Current psychotherapies.
Itasca, Illinois: F.E Peacock Pulishers
Murad,
J. (2006). Dasar-dasar konseling. Jakarta: Universitas Indonesia
Semiun,
Y. (2010). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
C.
Logoterapi ( Frankl)
1.
Konsep
dasar pandangan Frankl tentang perilaku / kepribadian
Pandangan
Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti.
Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur.
Frankl berpendapat manusia harus dapat
menemukan makna hidupnya sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk
memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu
adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah
prinsip utama teori Frankl Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar,
yakni :
a. Kebebasan
berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan
logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan.
Kebebasan yang dimaksud dalam freedom of will seperti:
- Kebebasan
yang bertanggungjawab.
- Kebebasan
untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut.
- Kebebasan
untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
b. Kehendak
Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada
makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia
(Frankl, 1977). Dalam psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan.
Pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut
logoterapi bahwa kesenangan merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan
kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut
Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya
menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu menjadi
individu yang bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat dengan
makna.
c. Makna
Hidup (The Meaning Of Life)
Makna yaitu suatu hal
yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam
penderitaan. Makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa
berbeda antara satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap
jam. Karena itu, yang penting secara umum bukan makna hidup, melainkan makna
khusus dari hidup pada suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki pekerjaan
dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut
dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia
memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya
(Frankl, 2004).
2.
Unsur-unsur
Terapi
a. Munculnya
gangguan / kecemasan
Saat individu tidak
memiliki keinginan terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong
setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan
berarti dan berharga. Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma
ketidakbermaknaan, yaitu:
- Frustasi
eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga kehampaan
eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut Koesworo,1992,
exsistential frustration adalah fenomena umum yang berkaitan dengan
keterhambatan atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
- Neurosis
noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi
khusus dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik
klinis tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini
untuk membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang
berakar pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis
yang bersumber pada konflik-konflik psikologis.
b. Tujuan
terapi
- Memahami
adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal
ada pada setiap orang terlepas dari ras,
keyakinan, dan agama yang dianutnya.
- Menyadari
bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat,
dan diabaikan, bahkan terlupakan.
- Memanfaatkan
daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak
kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untyk
meraih kualitas yang lebih bermakna.
c. Peran
terapis
Terapis memberikan sugesti-sugesti
terhadap klien, bahwa setiap manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan
sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
3.
Teknik-tenik
Terapi
Dalam
logoterapi, klien diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud,
tujuan, dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup
tidak lagi kosong jika sudah menemukan sebab dan sesuatu yang dapat
mendedikasikan eksistensi kita. Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang
memiliki pendekatan klinis yang detail. Teknik-teknik yang digunakan antara
lain:
- Intensi
paradoksal
Mampu
menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan
hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang
ditakuti.
Contohnya:
A. Seorang pemuda yang selalu gugup ketika
bergaul.
B. Masalah tidur.
Menurut
Frankl, kalau menderita insomnia, seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat
tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan sebagainya. Seharusnya berusaha menjaganya selama
mungkin. Setelah itu baru merasakan adanya kekuatan yang mendorong untuk
melangkah ke kasur.
- De-refleksi.
Frankl
percaya sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terfokus
pada individu. Dengan mengalihkan perhatian dari individu dan mengarahkannya
pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya.
Misalnya, mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan tanpa memperdulikan
kepuasan individu atau cobalah tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda,
tidak juga diri pasangan.
Daftar Pustaka
·
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi
“Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
·
Frankl. Emil. (2004). On the theory and
therapy of mental disorders: an introduction to logotherapy and existential
analysis. Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New York.
·
Semiun, Y. (2006). Kesehatan
Mental 3. Yogyakarta : Kanisius.
·
Videbeck, L.S. (2008). Keperawatan
Jiwa. Jakarta : Anggota IKAPI.
Contoh kasus:
Aan adalah seorang pemuda yang sudah
mapan, saat ini ia sedang merasakan kekawatiran karena ia sudah diminta untuk
secepatnya menikah dengan kedua orang tuanya. Orang tuanya pun berniat untuk
menjodohkan Aan dengan seorang anak teman lamanya. Pada saat acara pertemuan,
orang tua Aan pun mempertemukan Aan dengan wanita yang tak lain adalah anak
dari teman lamanya itu. Menurut Aan, wanita itu mempunyai akhlak yang baik,
lemah lembut, dan sopan. Tapi, Aan menjadi ragu akan perjodohan itu, karena
teman wanita Aan semasa kuliahnya dulu meninggal akibat sakit. Sejak Aan
menerima informasi bahwa dia akan dijodohkan dengan wanita itu, perasaan
menjadi asing, dia juga sulit memberikan kepercayaan pada wanita tersebut. Aan selalu
terbayang akan teman wanitanya semasa kuliah dulu, bahwa bisa saja dia
kehilangan orang yang dia kasihi. Namun disisi lain Aan merasa kesepian dan
membutuhkan teman hidup. Sehingga membuat Aan bingung atas perasaannya, dan
memutuskan untuk mendatangi seorang konselor.
Proses konseling:
Konselor memahami masalah yang dialami
oleh kliennya, dan konselor membiarkan klien untuk menceritakan semua
masalah-masalahnya secara bebas. Setelah itu konselor memberikan tanggapan akan
masalah klien tersebut. Konselor terlibat pertanyaan yang relavan dan pantas
tentang masalah yang dialami oleh klien. Dimana pengalaman klien merasakan
perasaan kesepian dan khawatiran kehilangan kembali orang yang disayanginya. Konselor
meminta kepada klien untuk mengungkapkan ketakutannya dalam memilih dunia yang
pasti. Klien diminta untuk menghadapi realitas tentang perjodohan nya dan
menghubungkan dengan kekhawitran nya akan takut kehilangan wanita yang
disayanginya untuk kedua kali. Konselor menantang klien untuk melawan rasa
takut dan khawatirnya itu dan mencoba membuka hati untuk wanita yang baru
tersebut.
Dalam contoh kasus diatas, konselor
mendorong klien untuk memeriksa jalan hidupnya pada periode sejak mulai proses
konseling. Selanjutnya konselor memberitahukan bahwa ia sedang mempelajari
bahwa apa yang dialaminya adalah suatu khas sifat manusia. Yang mengalami
ketidakpastiaan dan kekhawatiran yang membuat hidupnya menjadi tak bermakna.