Minggu, 20 Maret 2016

Contoh Kasus

Contoh Kasus:

Klien pernah mengalami trauma diperkosa oleh pamannya sehingga sangat membenci pamannya dan berusaha melupakannya. Terapis mencoba menggali informasi dengan membuat klien mengingatnya sehingga memancing emosi klien makan klien diberikan katarsis (pelampiasan) yaitu sebuah ruangan dimana klien dapat mengekspresikan kemarahannya seperti berteriak-teriak sekeras-kerasnya di dalam ruangan katarsis itu atau meninju boneka. 

Ini merupakan contoh kasus dari asosiasi bebas dimana klien dibiarkan untuk memunculkan ketidaksadarannya. Hal ini juga berkaitan dengan proses katarsis. 

Anonim. (2009). Psikoterapi. (http://psychologygroups.blogspot.com/2009/03/psikoterapi.html). (diakses tanggal 19 Maret 2016)

Tugas Psikoterapi 1

A. Pengertian Psikoterapi

Menurut Clinebell psikoterapi adalah suatu alat untuk menyisihkan ganjalan batin yang mengurangi kemampuan kepribadiannya, sehingga dia dapat menjadi alat yang sebaik dan seefektif mungkin. 

Menurut Wede psikoterapi adalah istilah yang belum diatur yang mengacu pada siapa saja yang melakukan terapi, termasuk orang-orang yang tidak memiliki izin maupun pelatihan sama sekali.

Menurut Gunarsa psikoterapi adalah perawatan terhadap suatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis.

Jadi, psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian. Sebagaimana diketahui, bahwa perawatan terhadap penderita seperti tersebut ini, juga bisa dilakukan dengan pendekatan dari bidang Kedokteran, antara lain dengan farmakoterapi.

B. Tujuan Psikoterapi

1. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey (dalam Gunarsa, 2007) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadian dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama

2. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (dalam Gunarsa, 2007) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

3. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian terpusat pada pribadi menurut Ivey (dalam Gunarsa, 2007) adalah untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertembuhan dirinya yang unik.
4. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan terapi eksistensialistik menurut Corey (dalam Gunarsa, 2007) adalah untuk membantu seseorang mengetahui bahwa ia punya kebebasan dan menyadari akan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki. 

5. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan terapi behavioristik menurut Ivey (dalam Gunarsa, 2007) menghilangkan cara berpikir yang menyalahkan diri sendiri, mengembangkan yang menyalahkan diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. Selanjutnya perilaku yang nyata berdasarkan cara berpikir seperti itu.

C. Unsur-unsur Psikoterapi

Unsur psikoterapi ada 3, yaitu:

1. Terapis: orang yang melakukan serangkaian terapi untuk membantu menyembuhkan klien 
2. Klien: seseorang atau sekelompok orang yang akan melakukan serangkaian terapi untuk untuk penyembuhan.
3. Proses: proses pelaksanaan terapi yang dilakukan terapis kepada klien jadi disini ada proses interkasinya.

D. Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling

Menurut Blocher (dalam Gunarsa, 2007) membedakan Konseling dan Psikoterapi, sebagai berikut:

1. Klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa, tetapi dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuan-tujuannya, membuat keputusan dan cara umum bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan terhadap hari depannya.

2. Konseling dipusatkan pada keadaan sekarang dan yang akan datang.

3. Klien adalah klien dan bukan pasien. Konselor bukanlah tokoh otoriter namun adalah seseorang "pendidik" dan "mitra" dari klien dalam melangkah bersama untuk mencapai tujuan.

4. Konselor tidaklah netral secara moral atau tidak bermoral, melainkan memiliki nilai-nilai, perasaan dan normanya sendiri, meskipun komunikasi tidak perlu memaksakan hal ini kepada klien, namun ia juga tidak menutupinya.

5. Konselor memusatkan pada perubahan perilaku tidak hanya menumbuhkan pengertian.

6. Psikoterapi merujuk pada sekelompok terapi psikologis yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya, jadi dengan demikian konseling merupakan salah satu bentuk dari psikoterapi.

7. Jika konseling berfokus pada konseren, masalah pengembangan, pendidikan dan pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memfokuskan pada konseren atau masalah penyembuhan penyesuaian dari pengobatan.

8. Apabila konseling didasarkan atas falsafah atau pandangan terhadap manusia sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi.

9. Dan diantara konseling dari psikoterapi berbeda tujuan dan cara penciptaan masing-masing tujuan.  

E. Pendekatan terhadap mental illness

Mental Illnes adalah gangguan medis yang mempengaruhi perilaku seseorang dikehidupan seseorang. Adapun beberapa pendekatan mental illness sebagai berikut:

1.        Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalah gunaan zat. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
2.       Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stress yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
3.       Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
4.       Philosophic
Kepercayaan terhadap mertabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar filsafatnya tetap ada, yakni menghargai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

F. Konsep dasar teori psikoanalisis tentang kepribadian

Freud (dalam Taufiq, 2006) psikoanalisis tentang kepribadian adalah mampu mengungkapkan pertentangan antara perilaku dan kepribadian antara topeng yang dipakai dan fakta yang dihindari. Freudpun menegaskan konsep asosiasi, analisis mimpi, pemindahan dan mekanisme pertahanan diri dengan tujuan untuk bisa mengungkapkan insting yang ada dalam diri manusia (khususnya insting seksualitas) yang dikucilkan dan ditahan keberadaan sejak seseorang masih kanak-kanak. Pada perkembangan selanjutnya dalam teori psikoanalisis dan terapis tampak jelas bahwa trauma selanjutnya terjadi pada diri seseorang ternyata berkaitan dengan interaksinya dengan orang lain, dan bukan dengan sisi instingtifnya saja. Dengan deminikan, konsep dasar yang ada dalam diri dan terkucilkan sejak masa anak-anak adalah keinginan, ketakutan, dan traumatis masa kecil.

G. Unsur-unsur terapi psikoanalisis

1.         struktur kepribadian
•          id
•          ego
•          super ego
2.        pandangan ttg sifat manusia
•          pandangan freud ttg sifat manusia pd dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik dan reduksionistik
3.        kesadaran & ketidaksadaran
•          konsep ketaksadaran
·                    mimpi2 merupakan representative simbolik dari kebutuhan2, hasrat2  konflik
·                    salah ucap / lupa thd nama yg dikenal
·                    sugesti pascahipnotik
·                    bahan2 yg berasal dari teknik2 asosiasi bebas
·                    bahan2 yg berasal dari teknik proyektif
4.        Kecemasan
•          Adalah suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu
Fungsi memperingatkan adanya ancaman bahaya

•          3 macam kecemasan
Kecemasan realistis
Kecemasan neurotic
Kecemasan moral

H. teknik-teknik terapi psikoanalisis

1.        Analisis bebas, adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik dimasalah lalu.
2.       Penafsiran, adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan transferensi. Bentuknya: tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna.
3.       Analisa mimpi, suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan.
4.       Analisis dan penafsiran resistensi, ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi sebagai dia bias menanganinya.
5.       Analisis dan penafsiran transferensi, adalah teknik utama dalam psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalunya dalam terapi.

  
Sumber:

Clinebell, H. (2012). Tipe-tipe dasar pendampingan dan konseling PASTORAL. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Taufiq, M. I. (2006). Pandunan lengkap & praktis psikologi islam. Jakarta: Gema Insani

Wede, C & Tavris, C. (2012). Psikologi: edisi ke sembilan, jilid satu. Jakarta: Erlangga

Gunarsa, S. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: BPK Gunung Mulia

http://wildysuryapsi.blogspot.co.id/2015/03/artikel-2.html