Minggu, 19 Juni 2016

Contoh Kasus Terapi Bermain

Ani seorang anak yang berumur 6 tahun, mengalami gangguan keterlambatan dalam motorik nya, dan interaksi sosialnya. Lalu orang tua Ani, berkonsultasi dengan Psikolog untuk membantu permasalahan yang dialami oleh anaknya tersebut. Akhirnya Psikolog-pun menyarankan untuk Ani mengikuti Terapi Bermain guna membantu Ani memulihkan motorik dan interaksi sosialnya.

Psikolog menggunakan Jenis Permainan Skill Play untuk Ani, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan anak khususnya motoriknya

Kamis, 16 Juni 2016

Terapi Bermain

1. Definisi Terapi Bermain Menurut Maulany (1990) suatu cara yang penting dari ekspresi dan penangan konflik internal dan pengalaman traumatik masa lalu.
Menurut Razhiyah (2008) terapi bermain adalah suatu cara untuk membantu mereka yang mengalami masalah trauma, keresahan dan masalah mental. menurut terapi bermain ini suatu cara anak-anak mengeluarkan perasaan mereka dan mencari mekanisme yang dapat membantunya.
Menurut Zellawati (2011) terapi bermain adalah terapi yang menggunakan alat-alat permainan dalam situasi yang sudah dipersiapkan untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya, baik senang, sedih marah, dendam, tertekan,  atau emosi yang lain.
2. Macam-macam pendekatan Terapi BermainMenurut LaBauve dalam (Zellawati, 2011) menjelaskan 8 bentuk pendekatan dalam terapi bermain, yaitu:
  • model adlerian, model ini menggunakan dasar teori Psikologi Individual Adler, dengan dasar filosofi yaitu kehidupan sosial perlu untuk dimiliki, perilaku adalah tujuannya meilaht hidup secara subyektif dan hidup adalah sesuatu yang khusus dan kreatif. model ini digunakan untuk anak dengan kegagalan dalam berinteraksi sosial dan salah dalam mempercayai gaya hidupnya.
  • model terapi client centered, teori yang mendasari adalah teori Rogers, yang berpandangan bahwa motivasi internal yang dimiliki anak-anak mendorong pertumbuhan dan aktualisasi diri. terapi bermain dengan pendekatan client centered non directive (terapi yang berpusat pada anak secara tidak langsung), ini sesuai untuk anak-anak yang mengalami ketidaksesuaian antara kejadian hidup dengan dirinya.
  • model kognitif behavioral, model ini berpandangan bahwa anak memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti orang dewasa, yaitu ditentukan melalu bagaimana anak berfikir tentang diri dan dunianya. model ini digunakan untuk menangani anak dengan kepercayaan irrasional yang membawanya keluar dari perilaku maladaptif.
  • model ekosistemik, dasar yang digunakan adalah teori dari terapi realitas yang mempunyai pandangan bahwa berada dalam interaksi terhadap lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan.
  • model eksistensialisme, memiliki pandangan bahwa anak-anak adalah manusia berguna, unik, ekspresi diri dan pertolongan terhadap diri sendiri mendorong aktualisasi diri. pendekatan ini menangani anak-anak yang mengalami kesulitan untuk berkembang sesuai dengan keunikannya yang melemahkan pertumbuhan dirinya sehingga mengalami penolakan dalam menjalin hubungan dengan teman-temannya.
  • model gestalt, model ini melihat manusia secara total dilahrikan dengan fungsi utuh. pendekatan ini untuk terapi anak yang mengalami kesulitas bertumbuh secara alami, anak yang mencoba untuk memenuhi kebutuhan dengan cara yang tidak biasa, dan memiliki pengalaman luka baik secara fisik maupun psikologis.
  • model jungian, didasarkan pada teori analitik Jung yang melihat bahwa psikis terdiri dari ego, ketidaksadaran diri, dan ketidaksadaran kolektif, kekuatan menyembuhkan adalah bawaan. pendekatan ini biasanya digunakan untuk membantu anak yang mengalami ketidakseimbangan psikis, ego tidak dapat menjembatani antara dunia luar dan dalam dirinya.
  • model psikoanalitik, pendekatan ini menggunakan teori psikoanalisa tradisional yang memiliki dasar filosofi tentang anak yaitu anak memiliki rasa takut, memerlukan rasa aman, berusaha berhubungan dengan tuntutan lingkungan. pendekatan ini sesuai untuk anak yang mengalami konflik internal, kekhawatiran, represi, hambatan perkembangan dan agresivitas. terapi bermain mempunya akar dalam model psikoanalisis tradisional. pioner-pioner awal seperti Melanie Klein dan Anna Freud menginterpretasikan bermain sebagai simbol dari konflik anak.
3. Teknik Terapi Bermaina. Permainan Bonekaboneka memberikan suatu cara yang tidak mengancam untuk anak-anak bermain di luar pikiran dan perasaan mereka. selama bermain dengan boneka anak-anak melakukan beberapa hal seperti berikut ini:
  • mengidentifikasi diri dengan boneka
  • memproyeksikan perasaan dalam figur permainan
  • memindahkan konfliknya dalam figur permainan
dalam permainan boneka, terpais mendapat informasi tentang:
  • pandangan pikiran anak
  • perasaan anak
  • tingkah laku anak
boneka dalam terapi bermain meliputi:
  • boneka bayi yang berukuran seperti bayi
  • boneka yang secara anatomi benar, baik laki-laki maupun perempuan
  • keluarga boneka
  • binatang dari kain
  • boneka manusia dari berbagai ras dan suku bangsa
  • perlengkapan boneka seperti rumah, baju, tempat tidur dll
b. Permainan Boneka Wayanggerakan wayang atau boneka memungkinkan anak menceritakan cerita-cerita yang kaya dalam bentuk simbol dan untuk menciptakan fantasi-fantasi mereka. manfaat permainan boneka wayang antara lain:
  • melalui gerakan boneka anak dapat menghadapi pikiran dan perasaan yang sulit untuk mereka akui sebagai diri sendiri.
  • dengan menggunakan boneka anak dapat menciptakan orang lain dan berinteraksi serta mengungkapkan pikiran dan perasaannya sekaligus kemarahannya yang dalam kehidupan nyata tidak bisa dilakukannya.
  • anak-anak juga dapay menciptakan tokoh yang tidak bisa diungkapkannya sendiri, permainan dengan boneka dapat merupakan kegiatan kelompok yang menarik dan dapat digunakan dengan kelompok anak-anak yang lebih besar atau lebih kecil, terutama dalam lingkungan sekolah. dengan bermain boneka dalam kelompok, membuat anak saling menghargai sudut pandangan orang lain, dapat memecahkan masalah dan keterampilan sosial.
c. Berceritasecara psikologis membaca atau bercerita merupakan salah satu bentuk bermain yang paling sehat. kebanyakan anak kecil lebih menyukai cerita tentang orang dan hewan yang dikenalnya. selain itu karena anak kecil cenderung egosentrik mereka menyukai cerita yang berpusat pada dirinya.mula-mula anak-anak suka cerita imajinatif yang khayal kemudian seiring dengan berkembangnya kecerdasan dan pengalaman sekolah anak yang lebih besar menjadi realistik dan minatnya pun beralih ke cerita petualangan, kekerasan, kemewahan dan cinta serta pendidikan.menceritakan cerita memberikan cara yang menyenangkan untuk mengembangkan rapport dan belajar tentang anak. ketika anak menceritakan cerita mereka, mereka mengkomunikasikan informasi penting tentang diri mereka sendiri dan keluarga mereka sambil belajar mengekspresikan dan menguasai perasaan mereka. dengan mendengarkan cerita anak, terapis dapat memahami lebih baik pertahanan diri anak, konflik anak, dan dinamika keluarga anak. dalam menganalisis cerita anak, terapis harus mencari tema yang diulang yang dapat memberikan kunci penting tentang perasaan-perasaan dan perjuangan anak. terapis harus sangat akrab dan terampil dalam menginterpretasikan komunikasi simbolik secara wajar. semua ini tergantung pada keterampilan dan pertimbangan terapis.d. Bermain bermain selama masa kanak-kanak mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan permainan remaja dan orang dewasa. permainan anak kecil bersifat spontan dan informal. secara bertahap bermain menjadi semakin formal. dengan berkembangnya kemampuan berpikir anak, anak mulai mengembangkan permainan dengan aturan. permainan individu dan kelompok membantu anak belajar bagaimana membagi kelompok dan bermain dengan aturan. permainan mengajar anak tentang mendisplinkan diri, serta belajar untuk menang dan kalah. permainan yang diterapkan untuk terapi bermain dapat dimainkan sendiri maupun berkelompok.e. Bermain Pasiranak-anak suka bermain pasir. dengan adanya terapi bermain menggunakan pasir anak-anak diberikan kegembiraan, rileks dan merupakan medium terapeutik. selama di dalam kamar bermain anak bebas bermain dalam pasir dan banyak menggunakan miniatur yang tersedia seperti yang diinginkan. selama proses bermain pasir, anak memutuskan apa yang akan dibuat, figur apa yang akan digunakan, dan bagaimana menggunakannya. anak bebas membuat adegan, membuat pemandangan atau apa saja sebagai cara melukiskan pengalaman dimana mereka tidak dapat menceritakan dengan kata-kata.dengan mengobservasi anak saat bermain pasir, terapis mendapat informasi tentang pikiran, perasaan dan tingkah laku anak. permainan pasir juga sering menyangkut simbol-simbol yang mempunyai arti khusus.
Sumber:Maulany, R. F. (1990). the handbook of psychiatry. Jakarta: Buku Kedokteran EGCRazhiyah, K. A. (2008). apa itu autisme?. Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing Sdn Bhd

Zellawati. A. (2011). terapi bermain untuk mengatasi masalah pada anak. Jurnal Ilmiah Informatika. Vol. 2 No. 3