Hallo namaku Judith, aku baru duduk di bangku kelas 12 SMA. Aku ingin bertanya sama kalian, cinta itu apa? sayang itu apa? Apakah cuek sama cinta itu sama? Setahuku tidak. Kalau kalian lihat orang kalian cintai atau sayangi itu down, apa yang kalian? Hanya diam atau bertindak untuk melakukan suatu hal.
Pagi ini sesampainya aku di sekolah langsung duduk ditempat dudukku, dan menoleh ke belakang kearah meja Bams. Bambang Raditya adalah sahabatku, tapi aku biasa memanggilnya dengan sebutan Bams. Tapi itu dulu, belakangan ini dia berubah padaku, perhatiannya melebihi seorang sahabat. Akhir-akhir ini kita deket kesana kesini bareng.
Hari ini upacara bendera libur dulu soalnya ujan nih pagi-pagi, aku dari dulu gasuka HUJAN ya H-U-J-A-N, aku gasuka petir. Aku duduk diam di bangkuku dan lalu aku menoleh ke arah Brian yang sedang menikmati music yang ada di speaker porttablenya, aku terus menatapnya dan bicara padanya.
“Bams, ganti dong lagunya, aku gasuka lagunya.”
dia melihat ke arahku, dan dia malah buang muka padaku. Aku langsung terdiam dan membalikkan badanku ke arah papan tulis. Dia gasuka ya sama aku, sampe dia gtuin aku? Hmm.
aku masih sabar soal itu, aku menoleh teman sebangku ku, aku meminjam LKS nya, tapi terdengar dari suara di belakangku “aku dulu dith yang minjem” aku langsung melempar LKS itu kearah mukanya. Dan aku langsung lari ke WC, aku langsung kunci pintu dan menyalakan air keran, supaya ga ada yang tau kalau aku nangis. Aku baru sadar sahabatku Anggi dan Dicky tau kalau aku pergi sendirian pasti ada sesuatu hal yang terjadi kepadaku, aku langsung mengusap air mataku, dan mencuci muka ku, aku keluar dari WC itu, lalu aku berjalan menuju kantin. Aku ga peduli aku harus kehujanan, walaupun hujannya ga terlalu lebat. Aku memesan teh hangat, dan langsung duduk di meja kantin, ku pandangi Blackberryku. tapi, ga ada satupun pesan atau bbm dari Bams. Yang terlintas di dalam fikiranku kenapa Bams tidak ada rasa khawatir sedikitpun padaku, Bams apa kamu benar-benar tidak ada rasa padaku? Lalu apa status kedekatan kita selama ini. Kedekatan yang membuatku berharap tinggi dengan semuanya.
Sudah 1jam aku berada di luar kelas, sebentar lagi bel pulang, aku langsung segera ke kelas dengan basah kuyup. Pas aku baru masuk kelas, mataku langsung tertuju pada Brian, ternyata dia asik-asik aja bercanda sama yang lainya, YA dia sama sekali tidak mencariku dan mengkhawatirkanku. Aku langsung mengambil tasku dan pulang ke rumah dengan motor kesayanganku, tak pandang seberapa deras hujan saat itu.
Esoknya disekolah, aku masuk kekelasku dan pagi itu aku bertemu sesosok Bams, aku langsung berhenti di tempat sejenak, ku tarik nafasku ku dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan dan aku langsung melanjutkan jalan ku kearah tempat duduk. Dengan mata sinis dan sedikit kesal saat aku menantap matanya Bams. Bams mendekatiku.....
“dith, kamu kenapa? Nggak biasanya kamu kaya gini kalau aku dekati” Tanya Bams.
“menurutmu aku kenapa? Jawabku.
“kamu beda banget dith, aku ada salah kekamu?” nada yang semakin pelan.
“kamu bilang aku beda? Aku kaya gini karna karna kamu? Sudahlah kamu itu engga pernah peduli sama aku Yan, dan sekarang kamu gausah sok sokan peduli gitu sama aku huh.” Nadaku agak tinggi.
aku perlahan pergi meninggalkan Bams, tapi Bams menarik tanganku.
“tapi tunggu dith, aku sayang kamu. Aku nggak pengen kamu kaya gini ke aku. Dengan cara kamu diemin aku kaya gini, buat aku sedih dith”
“oh gitu ya, kemarin-kemarin kamu kemana, saat aku butuhin yang ada malahan kamu asik-asik sendiri kan sama temen-temen kamu, aku pergi dan kehujanan kemarin, apa kamu khawatirin aku? Engga Bams kamu engga peduli sama aku, sekarang kamu se enaknya bilang sayang, emang aku apaan Bams?” kesalku
.
aku berjalan meninggalkan Bams entah kemana, aku gapunya tujuan. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan, kenapa harus kaya gini sih. Aku terus berjalan sambil mengusap airmataku. Karna ini semua bukan akhir karna sudah lama aku lelah menunggunya, menunggu kepastian hubungan diantara kita itu apa.
Pagi ini sesampainya aku di sekolah langsung duduk ditempat dudukku, dan menoleh ke belakang kearah meja Bams. Bambang Raditya adalah sahabatku, tapi aku biasa memanggilnya dengan sebutan Bams. Tapi itu dulu, belakangan ini dia berubah padaku, perhatiannya melebihi seorang sahabat. Akhir-akhir ini kita deket kesana kesini bareng.
Hari ini upacara bendera libur dulu soalnya ujan nih pagi-pagi, aku dari dulu gasuka HUJAN ya H-U-J-A-N, aku gasuka petir. Aku duduk diam di bangkuku dan lalu aku menoleh ke arah Brian yang sedang menikmati music yang ada di speaker porttablenya, aku terus menatapnya dan bicara padanya.
“Bams, ganti dong lagunya, aku gasuka lagunya.”
dia melihat ke arahku, dan dia malah buang muka padaku. Aku langsung terdiam dan membalikkan badanku ke arah papan tulis. Dia gasuka ya sama aku, sampe dia gtuin aku? Hmm.
aku masih sabar soal itu, aku menoleh teman sebangku ku, aku meminjam LKS nya, tapi terdengar dari suara di belakangku “aku dulu dith yang minjem” aku langsung melempar LKS itu kearah mukanya. Dan aku langsung lari ke WC, aku langsung kunci pintu dan menyalakan air keran, supaya ga ada yang tau kalau aku nangis. Aku baru sadar sahabatku Anggi dan Dicky tau kalau aku pergi sendirian pasti ada sesuatu hal yang terjadi kepadaku, aku langsung mengusap air mataku, dan mencuci muka ku, aku keluar dari WC itu, lalu aku berjalan menuju kantin. Aku ga peduli aku harus kehujanan, walaupun hujannya ga terlalu lebat. Aku memesan teh hangat, dan langsung duduk di meja kantin, ku pandangi Blackberryku. tapi, ga ada satupun pesan atau bbm dari Bams. Yang terlintas di dalam fikiranku kenapa Bams tidak ada rasa khawatir sedikitpun padaku, Bams apa kamu benar-benar tidak ada rasa padaku? Lalu apa status kedekatan kita selama ini. Kedekatan yang membuatku berharap tinggi dengan semuanya.
Sudah 1jam aku berada di luar kelas, sebentar lagi bel pulang, aku langsung segera ke kelas dengan basah kuyup. Pas aku baru masuk kelas, mataku langsung tertuju pada Brian, ternyata dia asik-asik aja bercanda sama yang lainya, YA dia sama sekali tidak mencariku dan mengkhawatirkanku. Aku langsung mengambil tasku dan pulang ke rumah dengan motor kesayanganku, tak pandang seberapa deras hujan saat itu.
Esoknya disekolah, aku masuk kekelasku dan pagi itu aku bertemu sesosok Bams, aku langsung berhenti di tempat sejenak, ku tarik nafasku ku dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan dan aku langsung melanjutkan jalan ku kearah tempat duduk. Dengan mata sinis dan sedikit kesal saat aku menantap matanya Bams. Bams mendekatiku.....
“dith, kamu kenapa? Nggak biasanya kamu kaya gini kalau aku dekati” Tanya Bams.
“menurutmu aku kenapa? Jawabku.
“kamu beda banget dith, aku ada salah kekamu?” nada yang semakin pelan.
“kamu bilang aku beda? Aku kaya gini karna karna kamu? Sudahlah kamu itu engga pernah peduli sama aku Yan, dan sekarang kamu gausah sok sokan peduli gitu sama aku huh.” Nadaku agak tinggi.
aku perlahan pergi meninggalkan Bams, tapi Bams menarik tanganku.
“tapi tunggu dith, aku sayang kamu. Aku nggak pengen kamu kaya gini ke aku. Dengan cara kamu diemin aku kaya gini, buat aku sedih dith”
“oh gitu ya, kemarin-kemarin kamu kemana, saat aku butuhin yang ada malahan kamu asik-asik sendiri kan sama temen-temen kamu, aku pergi dan kehujanan kemarin, apa kamu khawatirin aku? Engga Bams kamu engga peduli sama aku, sekarang kamu se enaknya bilang sayang, emang aku apaan Bams?” kesalku
.
aku berjalan meninggalkan Bams entah kemana, aku gapunya tujuan. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan, kenapa harus kaya gini sih. Aku terus berjalan sambil mengusap airmataku. Karna ini semua bukan akhir karna sudah lama aku lelah menunggunya, menunggu kepastian hubungan diantara kita itu apa.